Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan

30 Desember 2013

tari saman

Asal usul tari saman – Tari Saman adalah sebuah kesenian tari dari suku Gayo (Gayo Lues) yang ada di daerah Aceh, Tari saman biasa ditampilkan pada perayaan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dari Asal usul tari saman, dan dalam beberapa literatur menyebutkan tari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara. Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.

SEJARAH TARI SAMAN ( ACEH )

Mengapa tarian ini dinamakan tari Saman? Tarian ini di namakan Saman karena diciptakan oleh seorang Ulama Gayo bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, tari saman menjadi salah satu media dakwah.

Selain posisi duduk dan gerak badan, gerak tangan sangat dominan dalam tari saman. Karena dia berfungsi sebagai gerak sekaligus musik. Ada yang disebut cerkop yaitu kedua tangan berhimpit dan searah. Ada juga cilok, yaitu gerak ujung jari telunjuk seakan mengambil sesuatu benda ringan seperti garam. Dan tepok yang dilakukan dalam berbagai posisi (horizontal / bolak-balik / seperti baling-baling). Gerakan kepala seperti mengangguk dalam tempo lamban sampai cepat (anguk) dan kepala berputar seperti baling-baling (girek) juga merupakan ragam gerak saman. Kesenyawaan semua unsur inilah yang menambah keindahan dan keharmonisan dalam gerak tari saman.

Karena tari saman di mainkan tanpa alat musik, maka sebagai pengiringnya di gunakan tangan dan badan. Ada beberapa cara untuk mendapatkan bunyi-bunyian tersebut:
1.            Tepukan kedua belah tangan. Ini biasanya bertempo sedang sampai cepat
2.            Pukulan kedua telapak tangan ke dada. Biasanya bertempo cepat
3.            Tepukan sebelah telapak tangan ke dada. Umunya bertempo sedang
4.            Gesekan ibu jari dengan jari tengah tangan (kertip). Umunya bertempo sedang.

Dan nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Dimana cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam :
1              Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
2              Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.
3              Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari
          pada bagian tengah tari.
4              Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi
          melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak
5              Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari
          solo.

Dalam setiap pertunjukan semuanya itu di sinergikan sehingga mengahasilkan suatu gerak tarian yang mengagumkan. Jadi kekuatan tari Saman tidak hanya terletak pada syairnya saja namun gerak yang kompak menjadi nilai lebih dalam tarian. Ini boleh terwujud dari kepatuhan para penarinya dalam memainkan perannya masing-masing. Itulah sekelumit tentang fungsi formasi, jenis gerak, asal musik pengiring serta nyanyian dalam pertunjukan tari Saman. Semoga bermanfaat bagi anda dalam memahami tarian Saman.

Dalam penampilan yang biasa saja (bukan pertandingan) dimana adanya keterbatasan waktu, Saman bisa saja dimainkan oleh 10 - 12 penari, akan tetapi keutuhan Saman setidaknya didukung 15 - 17 penari. Yang mempunyai fungsi sebagai berikut :

* Nomor 9 disebut Pengangkat
Pengangkat adalah tokoh utama (sejenis syekh dalam seudati) titik sentral dalam Saman, yang menentukan gerak tari, level tari, syair-syair yang dikumandangkan maupun syair-syair sebagai balasan terhadap serangan lawan main (Saman Jalu / pertandingan)

* Nomor 8 dan 10 disebut Pengapit
Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik gerak tari maupun nyanyian/ vokal

* Nomor 2-7 dan 11-16 disebut Penyepit
Penyepit adalah penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan pengangkat. Selain sebagai penari juga berperan menyepit (menghimpit). Sehingga kerapatan antara penari terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf (horizontal) untuk keutuhan dan keserempakan gerak.

* Nomor 1 dan 17 disebut Penupang
Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian dari pendukung tari juga berperan menupang / menahan keutuhan posisi tari agar tetap rapat dan lurus. Sehingga penupang disebut penamat kerpe jejerun (pemegang rumput jejerun). Seakan-akan bertahan memperkokoh kedudukan dengan memgang rumput jejerun (jejerun sejenis rumput yang akarnya kuat dan terhujam dalam, sukar di cabut.

Sejalan kondisi Aceh dalam peperangan maka syekh menambahkan syair-syair yang manambah semangat juang rakyat Aceh. Tari ini terus berkembang sesuai kebutuhannya. Sampai sekarang tari ini lebih sering di tampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan. Tarian ini pada awalnya kurang mendapat perhatian karena keterbatasan komunikasi dan informasi dari dunia luar. Tari ini mulai mengguncang panggung saat penampilannya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II dan peresmian pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Gemuruh Saman di TMII menggemparkan tidak hanya nusantara namun sampai ke manca negara. Saya sebagai anak negeri ini berharap semoga tari Saman bisa terus menggema.




2 Desember 2013

Tawuran Antarpelajar


Sebenarnya saya sendiri tidak mau menyebutnya sebagai budaya karena saya mengganggap hal ini bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan terus dilestarikan. Namun, bila dilihat dari sisi pewarisannya secara turun temurun setiap tahun, harus diakui bahwa memang sepertinya hal ini sudah dianggap budaya di kalangan pelajar.

Lalu, apa itu tawuran? Saya rasa kita semua sudah sering mendengarnya. Menurut Wikipedia, tawuran adalah perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat yang menjurus ke arah tindakan bentrok. Lalu, apa sih penyebab tawuran itu?
Menurut salah satu kompasianer, tawuran disebabkan beberapa faktor, yaitu
1.     Faktor internal
Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

2.    Faktor keluarga.
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (kurang harmonis) jelas berdampak pada anak. Ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

3.    Faktor sekolah.
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

4.    Faktor lingkungan
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap moral remaja. Masa remaja merupakan masa mencari jati diri atau masa pembentukan karakter. Jika lingkungan sekitarnya merupakan lingkungan yang baik, seorang remaja akan mempunyai karakter yang baik. Tapi sebaliknya, jika lingkungan dimana remaja tersebut tinggal atau bermain sangatlah buruk maka remaja tersebut akan memiliki moral yang buruk, memiliki karakter-karakter yang tercela di lingkungan seperti ini lah karakter-karakter preman tersebut tumbuh sehingga remaja-remaja tersebut pun cenderung kasar dan susah untuk diatur.

Lantas, bagaimana cara menyelesaikan permasalahan ini? Dari faktor yang telah disebutkan di atas, tentunya dapat kita bayangkan bahwa masalah ini bukanlah sebuah masalah yang dapat diselesaikan dengan mudah. Penyelesaiannya membutuhkan proses berkelanjutan, kesadaran dan kerjasama antara semua pihak, baik dari siswa sebagai pelaku tawuran maupun orangtua dan sekolah sebagai pendidik. Mengutip dari sebuah website homeschooling, ada beberapa cara yang efektif untuk mencegah terjadinya tawuran, antara lain dengan memfasilitasi siswa dengan kegiatan positif, menumbuhkan sikap optimis dan kepercayaan dalam diri para siswa serta menanamkan nilai-nilai agama dan moral yang membentengi para siswa dari tindakan anarkis seperti tawuran.


Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Tawuran
http://www.fikarhomeschooling.net/index.php/86-news/123-penyebab-terjadinya-tawuran-antar-pelajar
http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/09/budaya-tawuran-yang-turun-temurun-567229.html

25 November 2013

BUDAYA INDUSTRI JEPANG


Tidak seperti biasanya, pada postingan kali ini saya akan membahas tentang budaya dari luar Indonesia. Budaya yang akan saya bahas adalah budaya dari negara yang terkenal dengan budaya dan film animasinya. Ya, kali ini saya akan membahas tentang budaya Jepang. Lebih tepatnya perindustrian jepang

Jepang sebenarnya adalah negara agraris, namun pertumbuhan yg pesat di bidang industri setelah Perang Dunia ke-2 menyebabkan Jepang kemudian berkembang menjadi negara industri. Sekitar 19% penduduknya bekerja pada industri dasar seperti industri pertanian dan perikanan, sedangkan 34% penduduk lainnya bekerja pada industri sekunder seperti industri perakitan dan sekitar 47% bekerja pada industri tersier seperti industri pelayanan.

Tingkat populasi pertanian menurun sampai setengahnya selama 20tahun ini. Pertamian kemudian meningkatkan mekanisasi peralatannya. Beras telah menjadi hasil pertanian utama sejak dulu.

Perikanan di Jepang memang telah maju sejak dulu karena Jepang dikelilingi oleh laut. Akhir-akhir ini penangkapan ikan di tengah laut telah ditingkatkan karena daerah pinggir pantai telah banyak tercemar oleh limbah-limbah pabrik yang menyebabkan berkurangnya jumlah ikan.

Kebutuhan terhadap kayu meningkat setiap tahunnya. Namun, karena persediaan di dalam negeri sangat terbatas, maka Jepang harus mengimpor kayu dari luar. Di Jepang hasil tambang seperti besi dan tembaga pun tidak begitu banyak. Begitu pula dengan minyak bumi. Dahulu, hasil tambang batu bara Jepang cukup berlimpah, tetapi sekarang sudah hampir tidak ada. Jepang mengimpor hampir seluruh bahan-bahan baku tersebut.

Dalam bidang produksi industri, Jepang berada setingkat di bawah Amerika Serikat. Sesudah Perang Dunia ke-2, pertumbuhan industri ringan seperti industri tekstil mulai berkembang. Barang-barang hasil industri Jepang mulai memasuki pasaran dunia. Hal ini karena didukung oleh tenaga kerja yang rajin serta upah yang rendah. Sejak tahun 1960, industri berat dan industri kimia menjadi pusat kegiatan industri di Jepang.

Teknologi tinggi mendukung perkembangan industri di Jepang. Teknologi di bidang perakitan kapal dan otomotif Jepang sangat terkenal. Di samping itu, teknologi di bidang pembuatan serat kimia dan serat sintetis juga telah maju.

Perdagangan sangat penting bagi Jepang. Karena Jepang sangat miskin bahan mentah, mereka mengimpornya dari luar negeri, mengolahnya, kemudian mengekspornya kembali. Akhir-akhir ini, nilai ekspor telah melampaui nilai impor. Ini berarti Jepang harus menyeimbangkan keduanya.

Amerika Serikat merupakan partner dagang Jepang utama. Sekitar 1/3 nilai perdagangan Jepang dihasilkan dari perdagangan dengan Amerika Serikat. Dahulu kapas dan bahan dasar wol merupakan barang impor, sedangkan kain katun dan mainan merupakan barang ekspor. Namun, saat ini, minyak bumi dan besi merupakan barang-barang impor yang utama, sedangkan barang ekspor yang utama adalah kapal laut, kendaraan bermotor, televisi, radio dan sebagainya. Barang-barang produksi presisi seperti kamera dan jam mempunyai reputasi yang baik karena orang Jepang terkenal akan keterampilan jari-jari tangannya sehingga mahir dalam pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan kehalusan.



3 November 2013

Masalah Budaya di Indonesia

       Sebagai negara dengan suku-suku yang beragam, Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam di setiap daerahnya. Kebudayaan-kebudayaan tersebut selain menimbulkan kekayaan yang cantik, juga memiliki permasalahan masing-masing. Mulai dari perebutan hak paten kebudayaan sampai lunturnya nilai-nilai kebudayaan tersebut. Masalah budaya Indonesia tersebut bila tidak segera ditangani maka akan berakibat pada punahnya budaya Indonesia sehingga dikhawatirkan akan terjadi krisis budaya di jaman anak cucu kita kelak.      
      Lantas, bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut? Tentunya kita harus tahu terlebih dahulu penyebab permasalahan tersebut. Berdasarkan link yang saya baca –dan menginspirasi saya untuk membahas topik ini- ada lima hal yang menjadi penyebab permasalahan budaya di Indonesia. Kelima hal itu adalah.. 
1.    Kurangnya Regenerasi
Budaya adalah sesuatu yang diwariskan turun temurun. Jadi upaya pelestariannya membutuhkan regenerasi yang berkelanjutan. Sayangnya, hanya sedikit generasi muda kita yang mau mempelajari dan mengenal kebudayaan bangsa sendiri.
 
2.    Kurangnya Rasa Memiliki
Perasaan memiliki akan membuat kita menjaga apa yang kita miliki dan menghargainya. Sayangnya, perasaan memiliki bangsa Indonesia hanya timbul ketika ada bangsa lain yang berupaya mematenkan kebudayaan kita. Kemana saja kita sebelumnya? Bila bangsa lain bisa mematenkan kebudayaannya, mengapa kita harus menunggu kebudayaan kita direbut dulu baru mematenkannya? Kurangnya rasa memiliki membuat kita menyepelekan budaya yang telah kita miliki
 
3.    Kurangnya Penghargaan dari Pemerintah
Di negara-negara maju, misalnya Jepang dan Korea, kebudayaan sangat diperhatikan. Hal ini dapat kita lihat dari film, manga, dan anime yang banyak ditayangkan di layar kaca. Beragam festival dan perayaan-perayaan diadakan untuk mempertahankan kebudayaan negara mereka. Bahkan rumah tradisional mereka pun banyak ditampilkan dalam film-film mereka yang di’ekspor’ demi menonjolkan kebudayaan negara mereka. Lalu, bagaimana dengan kita? Harus diakui bahwa pemerintah kita kurang memperhatikan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari minimnya anggaran yang disediakan pemerintah untuk program-program budaya Indonesia
 
4.    Konsep Pelestarian Budaya yang Kurang Tepat
Melestarikan budaya tidak berarti hanya melakukan sesuatu demi tetap adanya budaya tersebut, tetapi lebih dari itu. Perlu adanya pengembangan-pengembangan kebudayaan tanpa menghilangkan inti dari budaya itu sendiri. Misalnya demi melestarikan makanan tradisional Roti Buaya, dibuatlah inovasi dengan mengisi roti buaya tersebut dengan berbagai rasa, ukuran atau dijadikan oleh-oleh
 
5.    Masyarakat yang terlalu mudah menyerap budaya luar
Sikap masyarakat yang terlalu mudah ikut-ikutan dengan budaya luar dan menganggap sepele kebudayaan sendiri menimbulkan kurangnya rasa memiliki dan lunturnya nilai-nilai kebudayaan bangsa. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa hal yang keren adalah hal-hal yang berasal dari luar negeri sehingga budaya luar dengan mudah menggeser nilai kebudayaan domestik 
 
      Demikian, kesimpulan saya permasalahan budaya bangsa Indonesia disebabkan oleh sikap bangsa kita yang kurang menghargai kebudayaan Indonesia bahkan cenderung menyepelekannya. Akibatnya, bangsa lain yang masih serumpun dan memiliki kebudayaan yang mirip dengan kita pun mulai mematenkan kebudayaan tersebut. Kejadian yang sempat menimbulkan kehebohan di dunia maya tersebut seharusnya menyadarkan kita untuk lebih menjaga apa yang telah kita warisi, bukan malah menginginkan warisan orang lain. Sekian, semoga postingan kali ini bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih J

20 Oktober 2013

Suku Asmat Seri 02



 Seperti yang saya janjikan, dalam postingan minggu ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai suku Asmat.

Suku Asmat terkenal dengan ukiran kayunya. Ukiran kayu yang bernilai seni ini dibuat tanpa menggunakan rancangan sketsa. Ukiran hasil buatan mereka sangat diminati para turis asing. Ukiran yang tak pernah dibuat identik dan beraliran naturalis menjadi ciri khas dari karya ukiran hasil suku ini. Berikut adalah contoh salah satu ukiran tersebut.


Dahulu, patung ukiran ini dibuat untuk mengadakan upacara bis, yaitu upacara yang diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang mati terbunuh. Pembuatan patung ukiran leluhur ini memakan waktu 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah tersebut. Patung bis menggambarkan rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.

Selain ukiran dan ritual, hal unik lainnya dari suku Asmat adalah makanan. Makanan pokok mereka adalah sagu. Sagu dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api. Makanan unik lainnya adalah ulat sagu, yakni ulat yang hidup di batang pohon sagu. Biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah, ditaburi sagu kemudian dibakar dalam bara api. Selain itu sayuran dan ikan bakar biasanya dijadikan pelengkap.

Seperti kebanyakan suku terasing, suku Asmat merasa dirinya adalah bagian dari alam. Karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya. Bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka. Perasaan menyatu dengan alam ini juga tampak dalam cara sederhana mereka untik merias diri mereka. Mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah, kulit kerang yang dihaluskan untuk warna putih, dan arang yang dihaluskan untuk warna hitam. Cara penggunaannya pun cukup mudah, yaitu dengan menambahkan sedikit air lalu mengoleskan pewarna dengan tangan ke wajah masing-masing.

Suku Asmat memiliki sebuah alat musik khas, yaitu Tifa. Dalam kepercayaan mengenai asal usul suku mereka, anak dewa yang berhasil selamat ini merasa kesepian. Kemudian ia membuat patung-patung kayu dan sebuah tifa. Dalam kesepiannya, ia terus menerus menabuh tifanya hingga akhirnya bergeraklah patung- patung kayu yang dibuatnya mengikuti irama tifa yang ia mainkan. Kemudian, patung- patung yang bergerak itu pun berubah menjadi manusia hidup. Sejak saat itu, Fumuripitis, anak dewa itu, terus mengembara dan menciptakan manusia- manusia baru yang kemudian menjadi orang- orang Asmat seperti saat ini.

Demikianlah pembahasan mengenai suku Asmat dari saya. Mohon maaf bila data yang saya sajikan kurang lengkap berhubung saya sendiri belum pernah datang langsung ke tempat kediaman suku ini ^_^ . Akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk pembaca yang membaca dari awal postingan ini tanpa bosan meng-scroll. Sampai jumpa :)

14 Oktober 2013

Suku Asmat Seri 01

Kali ini saya akan membahas tentang suku asmat. Suku asmat adalah salah satu suku terbesar yang ada di pulau Papua yang terkenal dengan kerajinan seni ukirnya. Fisik mereka biasanya berbadan tegap, berhidung mancung, rambut dan kulit yang berwarna hitam dan bermata bulat. Sebagaimana suku baduy yang saya bahas minggu lalu, suku asmat juga merupakan suku terasing di Indonesia.

Suku asmat terbagi dua, yaitu suku asmat yang tinggal di daerah pedalaman dan di daerah Teluk flaminggo. Keduanya memiliki cara hidup, struktur sosial, dan ritual yang berbeda-beda. Namun, di antara keduanya, masih terdapat sebuah persamaan, yaitu mitos tentang asal dari suku mereka. Berdasarkan mitos tersebut, suku asmat berasal dari anak dewa yang berasal dari dunia mistik atau gaib yang lokasinya berada di mana mentari tenggelam setiap sore hari. Mereka yakin bila nenek moyangnya pada jaman dulu melakukan pendaratan di bumi di daerah pegunungan. Perbedaannya, dalam mitos suku asmat dari daerah teluk flaminggo, dewa itu bernama Fumuripitis. Dalam perjalanannya dari hulu sungai ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya, tetapi ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus sampai ke tepi sungai lalu dirawat oleh seekor burung flaminggo hingga sembuh.

Suku asmat merupakan suku yang terbilang unik. Mereka memiliki kepercayaan animisme, yaitu kepercayaan kepada nenek moyang. Salah satu contoh penerapan kepercayaan mereka adalah cara yang dipakai Suku Asmat membunuh musuhnya. Ketika musuh terbunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk memakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago dan dipanggang kemudian dimakan.

Kehidupan orang-orang Asmat juga sangat terkait erat dengan alam sekitarnya. Mereka percaya bahwa alam ini didiami oleh roh, jin, dan makhluk-makhluk halus, yang disebut setan. Setan ini digolongkan ke dalam 2 kategori : 
                 1.          Setan yang membahayakan hidup
Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan). 
2.           Setan yang tidak membahayakan hidup
Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow

          Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.

Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk sisakit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi orang lain.

Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yangtingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.

Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Meski demikian, Orang Asmat masih tidak memiliki pemakaman umum. Jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinggir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Namun, dimanapun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.

Sekian dulu ya, penjelasan singkat dari saya mengenai suku Asmat. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata atau kekurangan data. Semoga di postingan selanjutnya saya dapat melengkapi lagi tulisan ini. Akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk yang telah membaca postingan ini. Sampai jumpa di postingan berikutnya :)

Sumber : http://loita-kurrota-a.blog.ugm.ac.id/2011/11/09/sistem-kepercayaan-suku-asmat/ dan sumber lainnya.

6 Oktober 2013

Budaya Suku Baduy




Hai, salam kenal. Di kali pertama penulisan blog ini, saya akan membahas tentang suku Baduy. Suku Baduy adalah salah satu suku terasing di Indonesia. Suku ini bermukim di daerah Banten. Sebutan "Baduy" sendiri merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang menyamakan dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Suku Baduy terbagi dua, yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. Masyarakat Baduy luar sudah berbaur dengan masyarakat luar dan dengan kebudayaan luar, sedangkan masyarakat Baduy dalam masih belum tersentuh kebudayaan luar.



Untuk mempertahankan keaslian budayanya, suku Baduy memiliki peraturan-peraturan yang diterapkan dalam desa-desa mereka. Peraturan tersebut antara lain,
*      Tidak boleh menggunakan listrik
*      Pantang untuk difoto
*      Tidak boleh menggunakan pupuk kimia buatan pabrik
*      Pantang naik kendaraan bermotor
*      Kain, rumah, jalan dan jembatan di desa Baduy adalah buatan sendiri
*      Tidak menjual padi yang ditanam

Aturan-aturan ini dibuat berdasarkan kepercayaan suku tersebut, yaitu Sunda Wiwitan yang berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang. Kepercayaan ini memiliki suatu pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari suku Baduy. Pikukuh tersebut berbunyi :

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.

Konsep intinya adalah hidup tanpa perubahan apa pun atau dengan perubahan sesedikit mungkin. Konsep yang dipegang teguh ini diterapkan pada kehidupan sehari-hari, misalnya dalam berladang tidak mengubah kontur tanah dengan membuat terasering dan tidak menggunakan bajak. Cara berladangnya hanya menggunakan tugal, sepotong bambu yang diruncingkan. Begitu pula saat membangun rumah. Kontur tanah tidak diubah sama sekali, sehingga tiang rumah mereka terlihat tidak sama tinggi.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Baduy adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Mereka mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, penanggalan Sunda. Hanya ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Baduy, itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen.

Selain kepercayaan, masyarakat Baduy juga memiliki sistem pernikahan yang berbeda. Sistem pernikahan yang dianut adalah sistem pernikahan monogami, artinya satu pria Baduy hanya boleh memiliki satu istri yang tidak boleh diceraikan hingga meninggal. Selain itu, menurut sistem ini, seorang adik tidak boleh melangsungkan pernikahan sebelum kakaknya melangsungkan pernikahan.

Sistem ini juga tidak mengenal hubungan pra-nikah (pacaran). Pasangan akan langsung dijodohkan. Diawali dengan pertemuan orang tua kedua pihak, lalu saling memperkenalkan anak masing-masing. Selanjutnya, proses dilanjutkan dengan tiga kali proses pelamaran, yaitu :
1. Tahap Pertama, orang tua laki-laki harus melapor ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih, buah pinang dan gambir secukupnya.
2. Tahap kedua, selain membawa sirih, pinang, dan gambir, pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawinnya.
3. Tahap ketiga, mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak perempuan.

Pelaksanaan akad nikah pun telah diatur dalam pikukuh tersebut. Akad nikah diadakan di Balai Adat dan disahkan oleh seorang ketua adat setempat. Peraturan ini juga mengatur tentang penyelenggaraan perkawinan yaitu pada bulan kelima, keenam dan ketujuh.